Beberapa Perempuan Memilih Tidak Menunjukkan Wajahnya

kata shinta tentang dunia

“Kayak istri teroris,” seseorang memberi komentar atas dirinya. Sosoknya berhijab panjang dan bercadar. Kebetulan ia makan bakso, satu meja dengan saya.

Entah mengapa tensi saya selalu naik mendengar kata-kata itu. Dan sekalipun saya tahu nada suara saya akan lebih tinggi -sadar atau tidak sadar- menjawab komentar tersebut, sulit menahan diri untuk tidak berkomentar.

Gambaran perempuan bercadar sudah dikonstruksi sedemikian rupa oleh media massa, hingga cadar, pakaian yang semestinya menunjukkan sebuah kehormatan dan pemuliaan pada perempuan menjadi begitu menyeramkan, Istri Teroris. Masih lebih baik, saya pikir dibandingkan dengan “koruptor” atau “istri koruptor”, mengingat banyak perempuan tersangka kasus korupsi mendadak berhijab dan bercadar (walaupun saya juga bisa paham bahwa hal itu dimaksudkan untuk melindungi dan menjaga nama baik keluarga tersangka).

“Bukannya itu cuma budaya Arab aja?”

TIdak tahukah mereka bahwa ketika seruan menutup aurat turun, para perempuan Muslim bergegas mengambil kain apapun yang bisa mereka kenakan untuk menutupi aurat mereka? Tidak tahu…

View original post 339 more words