Tags

, , ,

Saya dibesarkan oleh keluarga yang mengajarkan bahwa menghormati orang tua atau orang yang lebih tua adalah mutlak.

Saya diajarkan untuk menggunakan kata – kata yang menunjukkan penghormatan terhadap mereka.

Saya diajarkan bahwa bapak / ibu itu ‘dhahar’, bukan maem, bukan makan, apalagi mangan.

Saya diajarkan bahwa bapak / ibu itu ‘sare’, bukan bobok, bukan tidur, apalagi turu.

Saya diajarkan bahwa bapak / ibu itu ‘tindak’, bukan pergi, apalagi lungo.

Saya pun diajarkan bahwa bapak / ibu itu ‘mundhut’, bukan beli, apalagi tuku.

(Masih banyak lagi kata – kata dalam bahasa kromo yang menurut keluarga saya layak digunakan untuk orang tua maupun orang yang lebih tua).

Saya juga dibesarkan oleh keluarga yang mengajarkan bahwa menaikkan atau meninggikan nada suara kepada orang tua itu sungguh suatu hal yang sangat tidak pantas dan sangat kurang ajar.
Maka dari itu, semarah apa pun saya kepada orang tua saya, saya tidak pernah sekali pun mengeluarkan kata – kata kasar apalagi membentak mereka.
Maka dari itu, sungguh, hancur berkeping – keping hati saya ketika mendengar ada orang yang membentak – bentak orang tua mereka, bahkan jika itu ada di dunia sinetron sekalipun. Air mata saya langsung meleleh menangisi orang tua yang menjadi korban kekasaran anaknya.

( Tidak habis pikir saya, mengapa anak-anak yang melalui bapak ibu merekalah mereka bisa hadir ke dunia ini sanggup, sekali lagi, Sanggup mengucapkan kata-kata kasar dan membentak orang tua mereka ? )